Minggu, 04 Maret 2012

makalah Asal Usul Musik marawis

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang masalah
Indonesia adalah negara yang besar, negara yang kaya akan nilai budaya dan tradisi, salah satu suku di Indonesia adalah suku Sunda yang berada di pulau Jawa, tepatnya di Jawa Barat. Suku Sunda juga memiliki kesenian tradisional yang khas dan beragam, selain itu suku Sunda memiliki alat musik tradisional seperti rebab, kecapi, karinding, angklung dan suling.
Pada saat ini, suling kurang diminati oleh anak-anak, karena saat ini banyak alat musik modern yang lebih banyak digunakan. Masalah lain yang menyebabkan hal tersebut adalah karena kurangnya media pembelajaran alat musik suling dan kurikulum pelajaran alat musik tradisional kepada anak-anak.

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Kurangnya pengenalan alat musik ISLAMI khususnya MARAWIS kepada anak-anak usia sekolah dasar, khususnya di kota bandung.
2. Salah satu faktor anak-anak kurang meminati alat musik MARAWIS karena tergeser oleh alat musik yang lebih modern
3. Kurangnya media pembelajaran atau informasi tentang cara memainkan Alat Musik MARAWIS.

1.3 Fokus Masalah
Penulis akan memfokuskan masalah kepada perancangan media informasi mengenai bagaimana cara memainkan alat musik MARAWIS . Dengan memahami hal yang berkaitan tentang suling, dengan cara membuat media informasi tentang bagaimana memainkan alat musik MARAWIS.


1.4 Tujuan Perancangan
Dalam menyelesaikan masalah yang telah dibahas sebelumnya. Maka tujuan yang ingin dicapai dalam perancangan buku ini adalah:
1. Untuk mengenal alat musik MARAWIS khususnya di Indonesia.
2. Untuk menumbuhkan minat anak terhadap alat musik MARAWIS dan untuk memahami bagaimana cara memainkan alat musik tersebut.
3. Untuk membuat alternatif penyelesaian masalah mengenai kurangnya informasi mengenai bagaimana cara bermain Alat Musik MARAWIS.

1.5 Manfaat Perancangan
Dengan melaksanakan penelitian ini, diharapkan anak-anak dapat mempelajari suling dengan mudah serta mengembalikan gairah anak-anak untuk mempelajari alat musik tradisional khususnya suling. Dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya anak-anak sebagai fokus segmentasinya.
Diharapkan setelah beberapa tahun kemudian banyak generasi muda yang bisa memainkan suling dan melastarikan salah satu alat musik tradisional, sehingga kesenian tradisional Sunda tetap lestari.

BAB II
ASAL USUL KESENIAN MARAWIS

Marawis adalah salah satu jenis "band tepuk" dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi, dan memiliki unsur keagamaan yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta.
A. Sejarah
Kesenian marawis berasal dari negara timur tengah terutama dari Yaman. Nama marawis diambil dari nama salah satu alat musik yang dipergunakan dalam kesenian ini. Secara keseluruhan, musik ini menggunakan hajir (gendang besar) berdiameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 Cm, marawis (gendang kecil) berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm, dumbuk atau (jimbe) (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Kadang kala perkusi dilengkapi dengan tamborin atau krecekdan [Symbal] yang berdiameter kecil. Lagu-lagu yang berirama gambus atau padang pasir dinyanyikan sambil diiringi jenis pukulan tertentu
Dalam Katalog Pekan Musik Daerah, Dinas Kebudayaan DKI, 1997, terdapat tiga jenis pukulan atau nada, yaitu zapin, sarah, dan zahefah. Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira pada saat pentas di panggung, seperti lagu berbalas pantun. Nada zapin adalah nada yang sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW (shalawat). Tempo nada zafin lebih lambat dan tidak terlalu menghentak, sehingga banyak juga digunakan dalam mengiringi lagu-lagu Melayu.
Pukulan sarah dipakai untuk mengarak pengantin. Sedangkan zahefah mengiringi lagu di majlis. Kedua nada itu lebih banyak digunakan untuk irama yang menghentak dan membangkitkan semangat. Dalam marawis juga dikenal istilah ngepang yang artinya berbalasan memukul dan ngangkat. Selain mengiringi acara hajatan seperti sunatan dan pesta perkawinan, marawis juga kerap dipentaskan dalam acara-acara seni-budaya Islam.

B. Jumlah Pemain
Musik ini dimainkan oleh minimal sepuluh orang. Setiap orang memainkan satu buah alat sambil bernyanyi. Terkadang, untuk membangkitkan semangat, beberapa orang dari kelompok tersebut bergerak sesuai dengan irama lagu. Semua pemainnya pria, dengan busana gamis dan celana panjang, serta berpeci. Uniknya, pemain marawis bersifat turun temurun. Sebagian besar masih dalam hubungan darah - kakek, cucu, dan keponakan. Sekarang hampir di setiap wilayah terdapat marawis.

C. Menelisik Seni Marawis di Tasikmalaya

Di antara perkembangan kesenian kasidah rebana dan nasyid, kesenian marawis mungkin belum begitu populer di Tasikmalaya. Kesenian ini kini mulai berkembang di kecamatan Manonjaya, Leuwisari dan Ciawi. Di Kota Tasikmalaya sendiri, kelompok marawis masih bisa dihitung dengan jari, di antara yang eksistensinya mulai muncul ke permukaan adalah kelompok marawis Cintapada, Kecamatan Cibeureum.
Bagi sekelompok anak muda, kaum santri sarungan di Mts dan MA Mathlaulkhair Cintapada, bermain marawis tidaklah sekedar memainkan alat musik. Marawis hadir dengan kreativitas baru yang berpadu dengan sentuhan kesenian lokal, baik dalam proses kreatifnya, maupun fungsi pementasannya.
Di Cintapada, sebuah konfigurasi tarian payung geulis bisa berpadu dengan alunan shalawat diiringi tabuhan marawis. Menurut pembina kelompok nasyid Cintapada, Iip Syamsul Borelak, kelompoknya juga pernah berkolaborasi dengan seni tradional beluk dari Sanggar Candralijaya, Cikeusal. Kolaborasi ini memenangkan Festival Seni Unggulan Wilayah IV Jabar tahun 2008 sebagai juara ke-3.
Kelompok yang berdiri tahun 2005 ini memang baru pentas di beberapa kota saja, di antaranya di Tasikmalaya, Ciamis, Garut dan Bandung. Jika tarian samroh yang identik dengan marawis diganti dengan tarian payung geulis, beberapa shalawat yang dilantunkan pun sebagian besar diambil dari puji-pujian dari kitab al-Barjanji. “Kami mencoba memberi sentuhan kesenian lokal khas Tasikmalaya pada kesenian marawis”, imbuh Iip.
Kelompok marawis Mathlaulkhair yang kini digawangi Akik dan Billah (vokal), Teja (kompang), Abdussukur (hajir), Anton (tamtam), Nurul Huda (cymbal/kecrek), serta Ihab, Otong, Acep Rouf dan Agus (marwas) ini, juga menjadikan marawis sebagai bentuk lain prosesi upacara adat pada wisuda ataupun perkawinan. Berkolaborasi dengan tarian payung geulis dan genjring marawis, pertujukannya juga dilengkapi dengan dua lengser, lengser Sunda (emang lengser) dan lengser sunan (uwa lengser) dengan pakaian jubah ala sunan.
Mungkin dengan cara seperti ini perlahan-lahan kesenian marawis mulai mendapat tempat di dalam dan diluar pesantren. Di antara tarik-menarik penafsiran atas seni musik di pesantren-pesantren salafiyah, marawis rupanya mulai dilirik sebagai salah satu kesenian yang positif untuk media ekspresi para santrinya.
Bagi Akik dan Teja, misalnya, bermain marawis merupakan kegemaran yang menyenangkan. Kerja keras dan latihan secara rutin setiap hari Jum’at dan Minggu merupakan semacam katarsis dari padatnya jadwal sekolah dan pesantren. Akik yang semula vokalis dorban dan Teja yang sebelumnya pemain nasyid menemukan kenyamanan dan dukungan pesantren yang positif terhadap kesenian marawis. Akik dan Teja berharap, di kemudian hari marawis bisa lebih berkembang tak hanya di Cintapada, tapi di pesantren-pesantren lainnya di Kota Tasikmalaya.
Berkembangnya kesenian marawis Cintapada ini tak lepas dari dukungan Kepala Madrasah Tsanawiyah Mathlaulkhoer, Hj. Imas Solihat, M.Pd. ”Selain mendapat dukungan moril, juga dukungan materil, seperti pengadaan properti, termasuk pengadaan kostum para pemainnya”, sambung Iip.
Kelompok Marawis Cintapada, berfoto sehabis acara Kemilau Nusantara 2008 di Lap. Gasibu Bandung.

D. Sejarah Perkembangan Marawis
Marawis adalah salah satu jenis musik perkusi dengan unsur religius yang kental. Dibawakan untuk mengiringi shalawat atau pujian kepada Allah dan Rosul, disertai tari-tarian sufistik.
Hingga kini belum ditemukan adanya penelitian ilmiah-historis ataupun data yang memadai untuk dijadikan rujukan kapan sebetulnya kesenian marawis ini berkembang dan siapa yang memeloporinya. Sumber-sumber yang bisa menjadi rujukan histori marawis baru terbatas pada sumber-sumber lisan. Konon marawis pertama kali dipopulerkan oleh para Habib (keturunan Rasulullah SAW) dan merupakan produk kebudayaan bangsa Arab.
Sumber lain menyatakan bahwa kesenian marawis pada mulanya ditemukan di Kuwait sekitar abad 16. Pada awalnya hanya terdiri dari 2 alat musik yaitu hajer dan marawis, semacam sebuah rebana dengan berukuran cukup besar yang kedua sisinya dilapisi oleh kulit binatang.
Namun kesenian ini kemudian lebih berkembang dan populer di Yaman, alat musiknya di modifikasi agar lebih menarik. Alat musik yang semula berukuran besar menjadi lebih kecil. Saat ini ukuran hajir lebih besar (sejenis gendang) dan marwas atau marawis ukurannya lebih kecil. Hajir berdiameter 45cm dengan tinggi 60-70cm, marawis atau marwas berdiameter 20cm dengan tinggi 19cm, dumbuk (sejenis gendang yang berbentuk seperti dandang, memiliki diameter yang berbeda pada kedua sisinya), serta dua potong kayu bulat berdiameter sepuluh sentimeter. Sebagian dilengkapi dengan tamborin atau krecek. Lagu-lagu yang berirama gambus atau padang pasir dinyanyikan sambil diiringi jenis pukulan tertentu
Sejarah masuknya marawis ke Indonesia, pertama kali dibawa oleh para ulama Hadramout (Yaman) yang berdakwah ke Indonesia dan dipentaskan pertama kali di Madura, sekitar tahun 1892. selain di Madura kesenian ini juga dibawa ke Bondowoso dan kesenian ini lebih popluer di kota Bondowoso.
Di Bondowosolah terjadi penambahan alat musik seruling, sehingga para penari yang ingin berzafin akan lebih menikmati gerakan yang di iringi alunan suara seruling (berdiamter 2,5 -3 cm dan panjang 35 cm, kedua sisi suling ini tidak ada penyumbat, dan lubang nada sendiri berjumlah 6).
Bisa dikatakan bahwa marawis pada awalnya merupakan inovasi cara berdakwah umat Islam denga pencapuran kebudayaan (akultirasi). Cara-cara berdakwah yang juga pernah diterapkan beberapa abad yang silam oleh wali songo sebagai penyebaran Islam di Jawa, seperti Sunan Bonang yang terkenal dengan Bonang-nya, Sunan Kalijaga dengan lagu ilir-ilirnya dan Sunan Ampel dengan lagu Tombo Ati-nya.
Seiring perkembangan zaman, kesenian marawis di beberapa daerah di Indonesia dikembangkan dan dilengkapi dengan menggunakan alat musik modern seperti gitar elekrik, organ , cymbal, drum, suling, dan lain-lain. Marawis plus alat-lat musik modern ini kemudian diistilahkan sebagai kesenian gambus.
Dalam katalog Pekan Musik Daerah, Dinas Kebudayaan DKI, 1997, pada marawis terdapat tiga jenis pukulan, yaitu zapin, sarah, dan zahefah. Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira pada saat pentas di panggung, seperti lagu berbalas pantun. Pukulan zapin adalah nada yang sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW (shalawat). Tempo zafin lebih lambat dan tidak terlalu menghentak, sehingga banyak juga digunakan dalam mengiringi lagu-lagu Melayu.
Pukulan sarah dipakai untuk mengarak pengantin. Sedangkan zahefah mengiringi lagu di majlis. Kedua pukulan itu lebih banyak digunakan untuk irama yang menghentak dan membangkitkan semangat. Dalam marawis juga dikenal istilah ngepang yang artinya berbalasan memukul dan ngangkat. Selain mengiringi acara hajatan seperti sunatan dan pesta perkawinan, marawis juga kerap dipentaskan dalam acara-acara seni-budaya Islam.
Seiiring perkembangannya, masuknya kesenian marawis ke Tasikmalaya menambah khazanah baru dalam syiar dakwah di Priangan Timur. Selain pukulan zapin, sarah dan zahefah, di Tasikmalaya dikenal juga pukulan bondowoso yang merupakan variasi pukulan khas asal daerah Bondowoso.
Sarabunis adalah santri & pemerhati seni
Aktivis Sanggar Sastra Tasik (SST)
dan Komunitas Azan


E. Alat Musik Marawis
Marawis adalah salah satu jenis "band tepuk" dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi, dan memiliki unsur keagamaan yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta.

1 set Marawis Polos / Warna Natural


1 set Marawis Motif Batik

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kesenian Marawis jangan pernah di tinggalkan karena musik Marawis adalah warisan nenek moyang suatu bangsa yang di turunkan secara turun temurun. Alat Musik Marawis ini merupakan suatu cirikhas sebuah bangsa, maka menjaga, memelihara dan melestarikan budaya dengan alat alat musik Marawis merupakan kewajiban dari setiap individu, dengan kata lain kebudayaan merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh setiap suku bangsa. Musik Marawis juga dapat di kolaborasikan dengan musik moderen yang tidak kala menarik untuk di saksikan.

B. SARAN
Selama menjalani matakuliah kritik seni ini ada banyak kekurangan dan kelebihannya. Misalnya kurangnya fasilitas atau media pembelajaran, dengan menambahkan alat proyektor sebagai media pendukung mahasiswa dapat cepat tanggap dengan apa yang sedang di pelajarinya. Pembelajaran yang langsung menyaksikan atau langsung turun ke lapangan juga dapat membuat mahasiswa tidak merasa jenuh karena tidak hanya belajar di dalam kelas saja, mahasiswa langsung dapat mengkritik sebuah pertunjukan yang sedang dilihatnya.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi yang telahmemberikan rahmat dan nikmat sehat, sehingga kami dapatmenyelesaikan makalah yang berjudul “ASAL USUL MUSIK MARAWIS ” ini.Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas B.NDONESIA.
Terima kasih kepada Bapak Teguh Budiawan sebagai guruyang telah membimbing kami dari awal kami sekolah disini sampaisaat kini saya membuat makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini,kami banyak menghadapi hambatan dan rintangan terutama dalampencarian informasi. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurnamengingat keterbatasan, kemampuan, dan pengetahuan kami.
Untuk itu, kami menerima saran dan kritik yang bersifat membangun, jikadalam penulisan makalah ini terdapat kekeliruan dan kesalahan.Harapan kami semoga makalah ini menjadi suatu pengetahuanbaru yang bisa bermanfaat bagi kita semua.

Pandeglang, Maret 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah 1
B. Identifikasi masalah 1
C. Fokus masalah 1
D. Tujuan perancangan 2
E. Manfaat perancangan 2

BAB II ASAL-USUL KESENIAN MARAWIS
A. Sejarah marawis 3
B. Jumlah pemain 4
C. Menelisik seni marawis di tasik malaya] 4
D. Sejarah perkembangan marawis 6
E. Alat musik marawis 9

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 10
B. Saran 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar